Raymond
Chow terlahir dari keluarga pengusaha yang sangat sukses. Sejak
kanak-kanak, ia selalu dilindungi oleh kedua orangtuanya. Mulai dari
urusan kecil hingga sampai hal-hal besar, ayah dan ibunya lah yang
selalu melakukannya pertama kali.
"Saya
selalu di belakang mengikuti dan menerima hasil apa adanya gitu. Jadi
saya tumbuh menjadi seseorang yang bisa dibilang gak berani berbuat
apa-apa," ucapnya.
Hingga
sampai remaja, Raymond tidak pernah punya pemikiran untuk masa depan.
Ia tidak pernah mengenal apa itu tujuan hidup. Yang ia tahu hidup adalah
untuk hari ini saja.
Tindakan berkuliah di Melbourne, Australia, pun bukanlah benar-benar keinginannya. Semua itu ia kerjakan atas usulan orangtua.
Ketika
merasa bosan dengan kehidupan yang dijalani, Raymond justru berkenalan
dengan sulap. Perlahan tapi pasti ia justru menemukan sesuatu yang
selama ini ia cari-cari.
"Tiba-tiba
ada sebuah kepercayaan diri yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.
Istilahnya saya tahu inilah yang harus saya lakukan di dalam kehidupan
saya," jelasnya.
Tetapi
situasi berkata lain. Raymond seolah berdiri di persimpangan antara
karir atau sulap. "Ketika saya mencoba bekerja di kantor ada sebuah
istilahnya itu sebuah silent scream – sebuah teriakan di dalam
diri saya yang mengatakan "hei, ngapain kamu menghabiskan waktumu untuk
melakukan apa yang bukan bagianmu, jangan sia-siakan waktumu", dan
teriakan itu terus-terus-terus berteriak di hati saya setiap saya
bekerja di kantor itu. Sehingga akhirnya saya memutuskan kalau ini sudah
saatnya saya harus berbicara kepada orangtua saya, apa yang saya mau
bagi kehidupan saya," tandasnya.
Pada waktu yang sudah direncanakan, Raymond pun mengutarakan isi hatinya kepada ayah dan ibunya.
"Jadi
ketika mereka pertama kali mendengar kalau anaknya menjadi seorang
pesulap, timbul kekuatiran di dalam hati mereka karena mereka merasa
sulap itu bukan sesuatu yang punya masa depan. "Kalau kamu menjalankan
sulap, mau makan apa nanti?" "Nanti kalau teman-teman, saudara tanya
pasti malu dong anaknya jadi pesulap, sudah jauh-jauh disekolahkan di
Australia gitu," aku Raymond.
Walau
orangtua tetap menentang, Raymond tidak beranjak pada pendiriannya.
Keputusannya menjadi seorang pesulap ia terus pegang dan akan ia jalani.
Namun
ketika benar-benar mau terjun ke dunia sulap, sebuah keraguan muncul di
hati Raymond. "Banyak sekali kekuatiran hidup terutama dalam menjalani
sulap ini karena yang pertama ini adalah teritori baru yang belum pernah
saya jalani sebelumnya, dan yang kedua mungkin adalah masalah finance dimana saya nanti untuk kebutuhan ke depannya itu gimana" jelasnya.
"Kekuatiran
lainnya tentu saja gimana kalau saya tidak berhasil, gimana kalau saya
gagal, gimana kalau saya ditertawakan orang, gimana kalau keluarga saya
akhirnya berkata "tuh kan saya sudah katakan gak mungkin bisa". Mulai
saya banyak pertanyaan, "Tuhan ini bener gak sih, ini adalah sebuah
jalan yang Engkau sediakan pada saya. Bener gak Tuhan?" dan ada kalanya
saya berteriak, saya nangis sama Tuhan," imbuhnya.
"Sering
sekali saya nangis sama Tuhan, saya bertanya sama Tuhan, "Tuhan, kenapa
sih saya diberikan sebuah talenta sulap ini. Sebuah talenta yang
berbeda dari orang lain. kenapa saya gak dikasih talenta orang yang
bilang normal? Kenapa saya tidak dikasih talenta bisnis atau di dalam
accounting, kedokteran, atau talenta apapun itu juga? Kenapa saya
dikasih talenta sulap Tuhan? Kenapa?"" kata Raymond.
Dalam segala kebingungan dan kekuatiran, Tuhan memberi kekuatan pada Raymond. Salah satunya adalah melalui mimpi.
"Dalam
mimpi itu jelas sekali ada sebuah tulisan yang berkata, "I want to tell
you a story. A story of magic that heals, not magic that reveals".
Langsung saya nangkap itu. Kalau saya itu sudah diberikan talenta untuk
memberitakan kebenaran dengan menggunakan sulap. Jadi sulap yang saya
lakukan, itu bukanlah sebuah sulap seperti biasanya, sebuah sulap yang
menghibur, tetapi sebuah sulap yang menguatkan, sebuah sulap yang bisa
mengubahkan kehidupan orang" ungkapnya.
Keyakinan Raymond terbukti. Perlahan-lahan berkat anugerah Tuhan, ia mulai mengadakan performance sulap di dalam dan di luar negeri. Tidak hanya itu, restu dari orangtua juga didapat dan mengiringi langkah kaki Raymond.
"Saya
sangat senang sekali karena saya diberi kesempatan untuk melihat
kebaikan Tuhan. Saya diberi kesempatan untuk melihat bagaimana
orang-orang itu bisa berubah. Mindset mereka tentang sulap, tentang Tuhan, itu semuanya berubah," urainya.
Raymond
menyadari apa yang jalani ini belum tentu bisa membuatnya menjadi
seorang jutawan, tetapi ketika ia bisa melihat kehidupan seorang
diubahkan, mindset (pola pikir) mereka diubahkan, ia bahagia. Baginya, semua hal itu adalah priceless (tak ternilai) dan takkan bisa ditukar dengan apapun juga yang ada di dunia ini.
Sumber kesaksian :
Raymond Chow